Selasa, 06 Maret 2012

Pergaulan Bebas di Kalangan Mahasiswa




Secara formalitas, kita memandang Mahasiswa dengan kearifan intelektualitasnya, sikap Ramah tamah dan Rapih di dalam segala bentuk kegiatan terutama dalam tingkah lakunya. Namun hal itu sangat bertolak belakang dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan, sebab hanya sedikit dari kalangan Mahasiswa yang dapat melakukannya.
Mahasiswa yang seharusnya menjadi panutan bukan hanya tontonan bagi Masyarakat, sepertinya tidak dapat melakukan hal seperti itu. Buktinya sedikit dari sebagian Mahasiswa yang dapat menyelesakikan perkuliahnya dengan tepat waktu. Mungkin hal itu, karna faktor-faktor yang mengganggu akan aktivitas perkuliahannya dari berbagai dari bebagai kendala.
Salah satunya faktor yaitu yang sedang hangat-hangatnya di dalam perbincangan publik yaitu; “pergaulan bebas”, tidak akan ada yang menyangka apabila pergaulan bebas terjadi di kalangan Mahasiswa yang notebenenya berkepribadian intelektual. Tapi hal itu tidak menutup kemungkinan, karna Mahasiswa juga punya naluri hasrat untuk bergaul, khalayaknya manusia sebayanya yang lain di luar lingkungan Mahasiswa.
Menurut fakta tentang AIDS dan HIV di Jabar (Sumber: Dinkes Jabar). Menurut golongan umur, kasus AIDS dan HIV positif terbanyak pada usia 20-29 tahun.
Bila merujuk pada data diatas bahwasannya, bukan hanya dari orang penganguran atau pegawai yang tergolong akan kasus AIDS dan HIV. Karna pada umur 20-29 tahun terdapat banyak pula mahasiswa yang sedang melakukan studinya, jadi tidak menutup kemungkinan apabila penyakit tersebut ada di kalangan Mahasiswa karna pergaulan bebasnya.
Melihat fakta di lapangan, banyak Mahasiswa yang tersendat perkuliahannya karna pergaulan bebas, bukan cukup di situ ada pula sampai hamil di luar nikah dan berakibatkan putus kuliahnya atau melanjutkan studinya dengan status pernikahan yang di sebabkan pergaulan bebasnya.
Apakah hal seperti itu bukti dari intelektualnya seorang Mahasiswa?. Pasti bukan, sebab Mahasiswa dengan intelektualitasnya di tuntut untuk bisa menjadi contoh serta panutan yang positif bagi masyarakat yang perilaku seperti itu akan berimbas pada adik-adik SMA dan sederajatnya yang akan melanjutkan studinya pada bangku perkuliahan. Dan hal ini bisa menjadi dampak yang buruk apabila hal tersebut (pergaulan bebas), benar-benar terjadi pada kalangan Mahasiswa di lingkungannya.
Perlu adanya kesadaran dari seorang Mahasiswa agar dapat menempatkan ke-intelektualitasnya dan menjadi panutan yang baik bagi masyarakat bukan hanya tontonan belaka. Karna, masyarakat tidak memerlukan gambaran semata, tapi bukti yang nyata dalam kehidupan sehari-harinya.
Sedangkan dari Jumlah Kumulatif Kasus AIDS dan HIV di Jabar, dari Tahun 1989-September 2010, Laki-laki 2,684 Orang (AIDS), 1,425 Orang (HIV Positif), dan Perempuan, 762 Orang (AIDS), 517 Orang (HIV Positif), tidak di ketahui, 8 Orang (AIDS), 212 Orang (HIV Positif). Bila di totalkan dari jumlah di atas menjadi 5,608 Orang yang mengidap kasus AIDS dan HIV di Jabar.
Dari data di atas, dapat di simpulkan bahwasannya, kaum laki-laki lah yang paling dominan dari kasus AIDS dan HIV. Dan perempuan hanya menjadi penunjang akan tersalurnya penyakit tersebut. Hal ini dapat memberikan dampak buruk bagi kehidupan di lingkungan Mahasiswa khususnya, umumnya untuk lingkungan masyarakat yang menjadi tempat setiap orang dalam bersosialisasi tingkah lakunya dalam melakukan kegiatan sehari-harinya.
Perubahan harus menjadi suatu tugas bagi kalangan Mahasiswa dalam membentuk kepribadian intelektualnya. Agar terbukti dalam kehidupan dan bukan hanya isu-isu belaka. Memulai perubahan tersebut meski ada kesadaran akan tanggapannya pada pergaulan bebas, mana mungkin tercipta perubahan apabila kesadaran dari diri seorang Mahasiswa tidak pernah timbul.
Sebagaimana firman Allah SWT. “Sesungguhnya allah tidak mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung selain Dia”. (Q.S:Ar-rad. [13] : 11). Dengan begitu jelaslah sudah, perubahan dalam lingkungan Mahasiswa akan terlaksanakan dan tercipta dalam kehidupan apabila ada suatu kontribusi kesadaran dari Mahasiswa akan pergaulan bebas yang berada dalam lingkaran kehidupannya.
Mahasiswa adalah subjek dari perubahan ini, yang bisa merubah akan pergaulan di lingkungannya. Memulai kesadaran dari hal yang terkecil itulah sesuatu yang lebih berharga dari pada menanti perubahan besar dari kehidupan tapi tidak ada yang di perbuatnya.

Penulis : Mahasiswa Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates